HARDOLIN

Pidi Baiq

BAB 1

Pemuda, Kerbau dan Hutan.

Suatu hari, di bawah patung macan Cisewu, ada seorang pejabat daerah dengan Gangguan Kepribadian Narsistik sedang dililit ular… dan juga dililit hutang.

Tapi yang mau diceritain bukan itu.

Melainkan seorang pemuda berusia 17 tahun yang rumahnya ada di pinggir hutan.

Tinggi badannya 155 cm. Lebarnya 40 cm. Rambut depannya keriting agak acak-acakan. Rambut belakangnya panjang hampir sebahu.

Pakaiannya itu melulu: sweater putih tangan panjang dengan 2 garis hitam di kedua lengannya. Celananya hitam. Di pinggangnya terikat sweater cadangan bermotif bunga. Fungsinya bisa jadi selimut, bisa jadi alas duduk.

Namanya Hardolin.

Itu kalau kamu memanggilnya dari depan.

Tapi kalau dari belakang, kamu harus manggil dia: Nilodrah.

Dia tuh gak pernah mau noleh kalau dipanggil “Hardolin” dari belakang.

Kalau gak percaya, kita coba panggil dari belakang ya.

“Hardolin!”

Diam, dia.

“Hardolin!”

Masih diam.

Sekarang kita panggil dia: Nilodrah.

“Nilodrah!”

Tuh! Langsung nengok.

Cepet banget.

Ya, kan?

Hardolin hidup bareng sahabat karibnya, yaitu seekor kerbau betina milik bapaknya.

Namanya: Kehed.

Kehed tuh masih muda. Tanduknya belum panjang. Badannya hitam legam, mukanya putih bersih kayak pakai masker. Matanya biru terang, pokoknya kayak mata bule abis berenang di kolam klorin.

Tentu saja Kehed tidak pakai baju. Soalnya dia kerbau. Kalau pake baju nanti bisa kepanasan.

Ke mana pun Hardolin pergi, Kehed akan selalu ada di sampingnya. Baik itu ke barat. Ke timur. Ke utara. Ke selatan. Ke warung. Ke sungai. Kecuali kalau ke jamban.

Kalau bosen, mereka cuma muter-muter aja di tempat sampai pusing. Yang penting bareng selalu.

Kehed itu punya kelebihan, serudukannya kuat banget. Bisa ngerobohin pintu.

Sedangkan kelebihan Hardolin, ya memanfaatkan kelebihan Kehed itu, karena serudukanya bisa berguna untuk hal-hal yang dia anggap perlu.

Contoh, misalnya:

Suatu hari Kehed disuruh nyeruduk jamban kayu di pinggir sungai sampai terbalik. Itu sudah yang ke-14 kalinya.

Alasannya? Hardolin penasaran aja dengan isinya. Maksudnya dia ingin tahu siapa orang yang lagi ee saat itu.

Korban yang ada di dalam langsung nyemplung ke sungai. Jeritannya terdengar sampai jauh.

Sungainya jernih. Airnya ngalir di antara batu berlumut. Di kejauhan Gunung Tangkuban Perahu keliatan biasa aja.

Ternyata yang lagi berak saat itu: si Jajang, tetangganya. Anak Bi Acih.

“Jajang!” teriak Hardolin.

Tentu saja Jajang tidak menjawab, karena kesal.

Ya, begitu.

Seolah-olah apa yang mereka lakukan itu sebagai hal lumrah untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan.

Hardolin dan Kehed memang mitra sejati.

Minum susu kuda aja bareng. Kadang-kadang dipakai kumur-kumur, kemudian menyemburkannya ke atas.

Katanya itu air mancur.

Ya. Tidak ada batasan. Tidak ada rasa bersalah. Karena mereka masih muda dan bodoh.

Di abad ke-16, Prabu Siliwangi udah hilang di hutan Priangan. Tapi hidup tetap jalan terus dengan segala godaannya.

Lalu, tibalah hari yang mengubah segalanya.

3 Desember 1990. Ada juga yang bilang tanggal 4 Desember.

Orang tua Hardolin hilang tanpa pamit. Tanpa ninggalin uang.

Menurut versi warga yang sok tahu: Mereka diculik pemerintah negara tetangga karena dianggap sebagai ancaman terhadap stabilitas politik nasional mereka.

Versi warga yang lebih sok tahu lagi: Mereka diculik tentara Romawi yang lagi study tour ke Jawa Barat.

Desas-desus paling aneh datang dari orang-orang yang benar-benar gak tahu apa-apa tapi maksa berpendapat.

Katanya mereka diculik oleh tentara Nazi karena tersinggung diejek kalah perang oleh kedua orang tua Hardolin.

Ada juga yang nebak mereka diculik alien. Lalu bahagia bersama H.C. Andersen di Planet Jupiter untuk selama-lamanya, meninggalkan cara hidup tradisional Indonesia dan jauh dari dokter mana pun.

Yang aneh: Ada 2 warga lain yang pernah diculik juga. Saat mereka kembali, bajunya baru. Bawa parabola, panel surya, mobil van segala medan, dan uang banyak.

Sejak itu, warga yang tadinya pada takut diculik malah jadi pada pasang tulisan di depan rumahnya:

“SIAP DICULIK (4 ORANG) TANPA PERANTARA”

Hardolin jadi ikut seneng. Dia ngebayangin bapak ibunya akan kembali membawa TV, kulkas, dan dolar Singapur.

Tapi sampai tanggal 16 Maret 1995, mereka gak kunjung kembali. Semakin lama nunggu, semakin Hardolin sadar: “Oh. Ternyata aku sayang mereka.”

Dan sebagai manusia biasa, kalau sayang ya harus dicari.

Maka, bersama Kehed, Hardolin masuklah dia ke hutan. Mencari orang tuanya di sana.

Itu adalah hutan tropis. Wow! Lembap. Pengap. Tapi damai.

Isinya makhluk-makhluk yang jago makan daun dan buah-buahan dari pagi sampai malem. Baik yang hidup di tanah, maupun yang hidup di atas pohon.

Lama-lama Hardolin jadi betah di hutan. Pohon-pohonnya tinggi. Airnya jernih.

Jauh lebih luas dari TV 14 inch di rumah. Jauh lebih tenang dari suara tetangga yang hobi gosip.

Di hutan, pohon-pohon pada saling berbagi. Akarnya nyambung di bawah tanah. Pada tukeran air. Pada tukeran nutrisi. Tanpa ribut punya siapa yang lebih banyak.

Satu pohon dengan pohon yang beda jenis pun akur. Gak ada tuh yang saling pamer daun. Gak ada tuh yang saling iri.

Entah apa agamanya. Pokoknya baik banget.

Selain itu, di hutan gak ada knalpot brong yang biasanya dilakukan oleh orang desa yang tinggal di kota karena ingin dianggap “ada” dan bisa menonjol di tengah keramaian.

Di hutan, gak ada klakson yang biasa dilakukan oleh orang yang merasa urusan atau waktunya jauh lebih penting daripada orang lain. Kayak dunia ini cuma muter untuk dirinya aja.

Di hutan, gak ada kabel utilitas atau kabel jaringan yang menjuntai semrawut, bikin pemandangan jadi sesak, sempit, dan terasa kayak lagi dikurung jaring laba-laba raksasa.

Gak ada baliho yang nampilin muka caleg. Itu tuh, yang biasanya memicu reaksi mental sangat spesifik di masyarakat: mulai dari jengkel berat sampe penolakan bawah sadar yang bikin orang jadi pengen nyorat-nyoret fotonya pake pilox.

Di hutan juga gak ada jemuran depan rumah, yang bisaanya dilakukan oleh orang yang ingin satu RW pada tahu koleksi celana dalamnya. Padahal itu barang yang seharusnya cuma Tuhan dan mesin cuci yang tahu.

Dan yang paling lega… gak ada ghibah yang biasanya menyebar kayak virus, bikin ketenangan mental warga jadi hancur berantai, sementara keharmonisan lingkungan pelan-pelan malah mati diem-diem.

Di hutan, Hardolin bisa buang hajat di mana aja tanpa mikirin septiktank. Mau di balik pohon, mau di sungai, mau di atas batu, terserah.

Gak ada kewajiban bayar iuran RT. Gak ada kewajiban bayar pajak. Gak perlu izin ke Kapolsek kalau mau teriak. Gak ada arisan. Gak ada orang yang nanya “kapan nikah?”. Gak ada status sosial yang harus dijaga. Gak ada tekanan harus kelihatan sukses. Gak ada.

Bebas.

Akhirnya Hardolin mutusin untuk tinggal di hutan. Lagian, percuma pulang juga, toh ayah sama ibunya udah diculik.

Kehed setuju dengan mengibas-ngibaskan ekornya. Dan itu artinya “oke”.

Kemudian Hardolin bikin rumah pohon. Tingginya kira-kira lima meter, tepat di atas pohon matoa yang kokoh.

Bangunannya sederhana banget. Dindingnya dari kulit kayu, lantainya dari batang yang diratakan, atapnya dari daun kering yang disusun rapat. Gak pake paku. Gak pake semen. Cuma diiket pake akar-akaran biar nempel kuat. Tapi cukup lah. Buat tidur, berteduh, sama nyimpen sedikit barang.

Karena Kehed gak bisa manjat, terpaksa dia tinggal di bawah pohon. Tempatnya sederhana aja. Kebetulan di bawah pohon matoa itu, ada akar besar yang menjulur, membentuk semacam ceruk alami.

Hardolin tinggal ngasih alas daun kering biar gak lembab, terus dipasangin beberapa batang kayu biar Kehed punya tempat tidur yang agak terlindung dari hujan dan angin. Cukup sih buat tidur, berlindung, sama nunggu Hardolin turun.

Jadi posisinya: Hardolin di atas, Kehed di bawah. Tapi tetap bersama.

Dan di sanalah… petualangan mereka akan segera dimulai.

BAB 2

Tarzan Versi Bandung

Setelah beberapa hari tinggal di hutan, Hardolin dan Kehed mulai terbiasa.

Sore itu, Hardolin dan Kehed baru selesai mandi di sungai kecil. Airnya dingin dan jernih.

Mereka makan di bawah pohon matoa. Hardolin makan buah-buahan. Rasanya ada asam, ada manis, ada sepet-sepet getah gitu. Gak bisa komplain, soalnya gratis.

Sambil ngunyah buah, Hardolin mulai curhat.

Dia cerita… dulu waktu sekolah di SMA Dago, Bandung, pernah nyasar masuk sekolah lain. Pas duduk di kelas, dia bingung sendiri karena gak ada yang kenal. Sempat mikir kenapa banyak murid baru, ternyata dia yang murid baru.

Kehed cuma diem sambil ngunyah daun muda. Sesekali ngelirik ke Hardolin dengan mata birunya. Kerbau gak tahu itu sedih.

Pukul 15:30, tiba-tiba terdengar suara:

“AUWOOOOOOOO!!!”

Mendengar itu, Hardolin langsung mematung. Matanya membelalak, tubuhnya kaku sepersekian detik.

Sementara Kehed langsung mendongak tajam. Kupingnya berdiri tegak. Matanya melek lebar, biru nyala gitu. Tubuhnya tegang, otot-otot punggungnya naik. Bersiaga. Siap-siap nyeruduk siapa pun yang kelak datang mengganggu.

Pukul 15:31, dari atas pohon matoa, muncul seseorang yang melompat-lompat pakai sulur. Lincahnya kayak monyet.

Penampilannya cuma pakai cawat kulit macan tutul. Pisau batu di pinggangnya. Dadanya bidang. Kakinya telanjang. Rambutnya gondrong.

Hardolin nelen ludah.

“Pocong?” gumamnya.

Bukan!

Itu Tarzan.

Pukul 15:33, Tarzan meluncur turun. Grap. Mendarat sempurna di depan Hardolin dan Kehed.

Hardolin langsung mundur selangkah. Kehed langsung menggeram pelan. Bulu di tengkuknya berdiri. Matanya menatap tajam, biru menyala. Kakinya sudah siap nyeruduk.

Jarak mereka cuma tiga meter. Cukup buat Hardolin dan Kehed melihat Tarzan dengan detail.

Wajah Tarzan cokelat kebakar matahari. Rahangnya tegas. Di dagu kirinya ada plester jerawat bulet. Matanya tajam tapi polos. Alisnya tebal.

“Kamu… siapa?” tanya Hardolin.

Suaranya masih hati-hati.

Tarzan diem. Mikir dia.

“Aku?” katanya menunjuk dadanya.

“Ya.”

“Aku Tar…”

Hardolin mengernyitkan dahinya. “Tar?”

Tarzan narik napas panjang, lalu meraih sulur yang menggantung di atasnya, kemudian, dengan itu, dia pergi melompat sambil teriak sekuat tenaga:

“ZAAAAAAAAAAANNNN!!!”

Suaranya menggema. Burung-burung langsung kabur berhamburan. Kehed kaget, kupingnya langsung tegak.

Dalam dua detik saja, Tarzan sudah hilang di balik rimbunnya daun. Cuma meninggalkan goyangan sulur doang.

Hutan jadi hening lagi.

Hardolin masih berdiri kaku.

“Tar… zan?”

Tentu saja Hardolin tahu Tarzan. Itu, manusia hutan paling terkenal sedunia di dalam film Hollywood. Biasanya berantem sama kera.

Di kepala Hardolin, Tarzan itu harusnya ganteng. Tapi yang ini… kok enggak?

Hardolin belum tahu.

Dia itu Tarzan versi Bandung.

Aslinya lulusan SMA yang ada di Buahbatu.

Anaknya pinter. Bisa bikin kerajinan tangan yang rapi. Hafal Pembukaan UUD 1945 sampai titik komanya.

Dulu, sempat jadi andalan guru waktu upacara. Tapi semua skill itu kalah telak oleh satu masalah besar: debt collector.

Tagihannya numpuk. Ada yang dari bank, ada yang dari koperasi, ada yang dari rentenir. Tiap hari ada aja yang dateng ke rumahnya.

Secara naluri, dia langsung tahu jalan keluarnya.

Kabur ke hutan.

Jadi Tarzan.

Stop mikirin hutang.

Rumah Tarzan ada di atas pohon. Gak jauh dari Goa Belanda. Pemandangannya cuma pohon, monyet, dan kadang suara-suara aneh dari dalam goa yang bikin orang normal langsung milih pulang.

Tapi Tarzan lebih takut debt collector daripada hantu.

Teman-temannya bilang dia itu stres. Owah, kalau bahasa Sundanya.

Padahal Tarzan cuma pengen hidup tenang.

Dan satu hal yang wajib diingat: jangan sampai dia telat makan.

Karena Tarzan punya maag.

BAB 3

Danau Para Bidadari.

Pertengahan Januari tahun 1995 sudah masuk musim hujan. Amfibi dan serangga lagi pada asyik berkembang biak.

Buah-buahan hutan liar, macam durian, kerantungan, lai, manggis, rambutan, dan duku lagi pada sibuk berjatuhan.

Sore itu Hardolin dan Kehed lagi mungutin buah-buahan yang jatuh di tanah.

Mereka jalan melewati tanah lumpur yang kalau diinjak bunyinya “ceplok… ceplok…”.

Hardolin nunggangi Kehed seperti biasa. Di tangan mereka sudah ada buah-buahan hasil dari “kerjasama”.

Sistemnya simpel.

Kehed bagian nyeruduk pohon sampai buah berjatuhan. Hardolin bertindak sebagai oportunis yang hanya memungut hasilnya.

Mereka terus jalan. Hutan terasa basah. Bau tanah campuran daun busuk dan kotoran monyet yang mengering di batang pohon. Itu harum.

Tiba-tiba dari atas terdengar suara:

“AUWOOOO!!!”

Hardolin dan Kehed langsung nengok bareng ke sumber suara.

Itu Tarzan!

Lagi parkour dari dahan ke dahan. Dengan… tidak pakai apa-apa.

Telanjang polos.

Natural.

100% organik.

Hardolin panik. Itu aurat. Dia menutup matanya sendiri pake tangan. Sekaligus menutup mata Kehed pake tangan yang satunya lagi.

“Astagfirullahaladzim…”

Tarzan melompat lagi sambil melebarkan kedua kakinya yang menekuk.

Terus…

PRRRRTTTTT…

Itu bunyi air kencing. Menyebar ke mana-mana. Kena daun. Kena batang. Kena tanah.

“PENYUBURAN TANAAAAH!!!” teriak Tarzan bangga dari atas.

Di hutan, tiap bulan Desember hingga Januari, memang lagi asik-asiknya reboisasi alami.

Sebetulnya cukup hanya dengan curah hujan yang sangat tinggi. Tapi Tarzan ingin ikut berpartisipasi

Hardolin langsung kabur. “LARI!!!”

Kehed ikut lari.

Dari belakang terdengar suara Tarzan ketawa. “HA HA HA!” menggema, terus suara itu hilang, tertelan hutan.

Setelah 10 menit, Hardolin dan Kehed berhenti. Napasnya ngos-ngosan.

Masalahnya adalah…

mereka nyasar.

Hardolin langsung berhenti. Matanya melirik ke segala arah. Napasnya memburu.

Kehed ikut berhenti, kupingnya juga berdiri, hidungnya mengendus cepat ke kiri dan ke kanan.

Keduanya bingung.

Ke barat pohon. Ke timur pohon. Ke utara pohon. Ke selatan… pohon juga. Jalan setapak yang tadi ada, sudah hilang ditelan semak.

Kemudian Hardolin melihat ada jejak sepatu bot di lumpur.

“Jejak siapa ini?” bisiknya sambil jongkok.

Kehed ikut menatap. Padahal dia gak ngerti.

SREET!

Tiba-tiba ada yang lari cepat dari belakang mereka.

Mereka langsung menoleh bersamaan. Tapi kosong.

Wajah Hardolin langsung pucat.

Lalu dia lari sambil teriak sekuat tenaga. “FIRAUUUUN!!!”

Kehed langsung ikut lari. Gak nanya Firaun itu siapa.

Mereka lari. Nerobos semak. Nerjang akar. Pohon yang dilewatinya makin aneh. Jalan setapak makin hilang.

Akhirnya mereka berhenti. Terengah-engah.

Fix.  Makin tersesat.

Hardolin nengok kanan kiri. “Kita di mana…”

Kehed diem. Dia juga gak tau.

Tiba-tiba langit terang.

Sebuah pelangi nongol di langit.

Melengkung indah banget di atas hutan.

Warnanya 7.

Lengkap.

“Waaah!! Pelangi…” Hardolin mangap.

Kehed ikut mendongak. Matanya biru menatap pelangi itu.

Dari balik pohon kemudian terdengar suara celetukan perempuan, suara tawa, dan kecipak air.

Mendengar itu… Hardolin dan Kehed langsung saling pandang.

“Siapa?” tanya Hardolin.

Kehed juga bingung.

Hardolin langsung jalan pelan ke arah suara itu.

Kehed ngikutin di belakang, langkahnya hati-hati.

Saat Hardolin menyibak daun lebar-lebar…

Kira-kira dua puluh meter dari mereka…

ada sekitar 36 orang perempuan lagi mandi di danau.

Rame banget.

Hardolin dan Kehed terpana.

Saat itu Hardolin dan Kehed belum tahu, mereka adalah bidadari dari Kahyangan.

Wow!

Ada yang keramas sambil nyanyi-nyanyi.

Ada yang nyuci baju di batu, dengan disikat pelan-pelan.

Ada yang gosok gigi, busanya sampai muncrat-muncrat.

Ada yang ngerok bulu ketek, tampak serius sambil jongkok di pinggir danau.

Ada yang main ciprat air sambil ketawa teriak-teriak.

Ada yang nyelam, lalu muncul lagi membawa batu licin.

Ada juga yang hanya duduk-duduk di pinggir danau, badannya cuma dibalut handuk sambil ngerokok. Asapnya naik pelan, bercampur dengan kabut sore.

Di area lain dekat danau, ada 5 orang bidadari yang beda sendiri. Bajunya paling mewah.

Yang satu pakai jumpsuit motif macan, tangannya nyentak-nyentak pecut.

Yang satu pakai gaun silver sequin, kena cahaya sore langsung silau.

Yang satunya lagi pakai setelan biru royal, lehernya dililit rantai emas segede jari.

Dua lainnya hanya duduk santai, tapi auranya paling berkuasa.

Yang satu memakai kebaya ketat warna merah menyala penuh payet, roknya belah tinggi, sepatu hak tinggi.

Yang satunya lagi memakai bodycon dress ungu metalik full glitter, rambut digelung mewah, kalung besar di leher.

Kayak baju panggung dangdut.

Kerenlah pokoknya.

Tidak jauh dari danau, pakaian mereka digantung di tali, ada juga yang ditaruh di ranting, dan di atas batu besar. Berjajar rapi kayak di butik. Bagus-bagus. Kena cahaya sore jadi makin menyala. Sepertinya mahal-mahal.

Pakaian-pakaian itu ada yang dihiasi payet, berkerlap-kerlip kena matahari. Ada yang penuh manik-manik kecil, yang kalau kena angin bunyinya krecek-krecek. Bahan sutranya tipis, ngembang pelan setiap ditiup angin.

Di antara pakaian itu ada banyak selendang yang berkilau kena cahaya matahari dan berkibar-kibar ketiup angin.

Hardolin dan Kehed masih ngumpet di balik semak-semak itu. Nahan napas, mereka.

Tiba-tiba…

NGUUUUUNG!!!!

Ada pesawat Lufthansa lewat membelah langit. Suaranya kenceng banget.

Dalam 1 detik, semua bidadari yang ada di air langsung NYELEM.

Bidadari yang ada di darat langsung TIARAP.

Kemudian sunyi begitu saja.

Setelah pesawat itu menjauh, bidadar-bidadari itu muncul lagi satu-satu.

Suasana kembali normal.

Mereka ngobrol lagi. Ketawa lagi.

Kayak yang gak terjadi apa-apa.

Pakaian-pakaian mereka yang berderet di tali, di ranting pohon, dan di atas batu masih berkelap-kelip kena sinar matahari.

Perhatian Hardolin langsung nyantol ke pakaian itu. Kilau payetnya bikin dia penasaran. Selendang-selendangnya kayak punya magnet.

Hardolin jadi lebih tertarik pada pakaian itu daripada pada bidadarinya sendiri.

Kemudian dia merayap, merangkak pelan-pelan. Jantungnya deg-degan. Takut nginjek ranting patah. Intinya takut ketahuan.

Kehed ikut merayap di belakangnya dengan cara yang sama. Sesekali nengok kanan-kiri. Kupingnya tetap berdiri. Siaga.

Setiap terdengar suara “kresek” mereka langsung diam, nahan napas. Lalu jalan lagi.

Sementara itu para bidadari masih saja sibuk ngobrol dan ketawa.

Setelah ngambil 1 selendang, Hardolin langsung kabur, diikuti oleh Kehed.

Mereka lari. Nerobos hutan.

Udah ngerasa jauh, mereka berhenti. Napasnya ngos-ngosan.

Mereka sadar tersesat.

Tapi mereka tahu… hutan punya arahnya sendiri.

Hardolin nengok ke atas. Nyari tanda.

Dia melihat lumut di batang pohon. Lumut paling tebal selalu berada di sisi barat.

Dia juga mendengar suara sungai di mana airnya mengalir ke arah timur.

Nah, berarti rumah pohon mereka itu berada di antara keduanya.

Dengan tanda itu, mereka jalan, mengikuti jejak monyet di tanah, dengan pikiran monyet gak pernah nyasar.

Kehed di belakang cuma ngikut.

Dan… begitulah yang terjadi hari itu.

Menurut manusia, yang dilakukan Hardolin tentu saja salah.

Itu namanya nyolong.

Tapi menurut hutan gak ada istilah salah atau benar.

Singa makan rusa, oh itu bukan jahat. Itu lapar.

Badai merobohkan pohon, oh itu bukan dosa. Itu angin.

Bakteri bunuh manusia, oh itu bukan kriminal. Itu cara mereka bertahan hidup.

Alam itu memang amoral. Yang ada cuma satu hukum: bertahan hidup.

Hardolin merasa bukan penjahat. Dia cuma manusia yang melihat peluang.

Dan kayak makhluk hutan lainnya, dia ngambil sebelum diambil orang.

Kalau kamu gak mau begitu…

maka jangan begitu.

Tapi Hardolin begitu, seperti sedang belajar menjadi penghuni hutan.

Sementara Kehed?

Gak nanya. Gak menghakimi.

Ngikut Hardolin aja.

BAB 4

Musibah di Danau Bidadari

Demi pohon mahoni yang harganya bisa buat DP rumah…

Pukul 16.45. Bidadari-bidadari itu masih pada mandi. Masih pada asik. Masih pada ketawa. Air danau masih berdesir, pelangi masih menggantung di langit.

Tapi beberapa saat kemudian…

Suara teriakan membelah hutan.

“AYO! AYO! AYO! PULANG!!!”

Yang teriak itu Akikah. Pembimbing Bidadari.

Dia yang pake jumpsuit motif macan itu.

Tahun 1987, dia pernah mandi di Danau Tuyen Lam, saat kunjungan ke Vietnam bersama delapan bidadari Indonesia lainnya.

Akikah teriak sambil nyentakin pecut ke tanah.

Prak!

Beberapa bidadari-bidadari langsung pada naik. Suasananya mendadak kayak bubaran pabrik.

“BENTAR!” teriak salah satu bidadari dari ujung danau. Dia masih jongkok. Sedang pipis.

Begitu sebagian bidadari naik, mereka langsung berhamburan ngambil pakaian yang digantung di tali, di ranting pohon, dan di batu besar, lalu buru-buru mengenakannya.

Setelah itu, mereka duduk di atas batu besar dan kayu tumbang pada berdandan sambil asik ngobrol.

“Enak di sini atau danau Toba?” tanya salah seorang Bidadari sambil nyisir rambut alis ke arah atas dan arah luar biar bentuk aslinya terlihat rapi.

“Enakan di Danau Toba sih,” jawab bidadari di sampingnya yang lagi moles warna pada kelopak matanya untuk ngasih dimensi.

“Cobain deh di danau Kelimutu,” sahut yang lain sambil melentikkan bulu mata dan mengaplikasikan cairan maskara biar bulu matanya bisa terlihat lebih tebal dan panjang.

Sementara 15 bidadari lainnya yang baru pada naik langsung berhamburan ngambil pakaian mereka.

Ada yang buru-buru menyambar selendang warna-warni, ada yang sibuk narik gaun sequin, sampai ada yang salah ambil rok rumbai karena panik denger suara pecut Akikah yang terus memecah senja.

Sampai akhirnya…

“PAKAIANKU MANA?!”

Yang teriak itu namanya Mawar. Bukan nama samaran. Pake handuk motif bendera Amerika.

Dia muter-muter.

“Tadi disimpen di mana?” tanya salah satu bidadari yang lagi pakai lipstik

“Di sini. Sebelahan sama pakaian Rere!” jawab Mawar.

Yeye yang sibuk mengoles handbody ngomong, “Awas lho ilang. Gak bisa pulang ntar.”

Yayang yang lagi asyik ngalis langsung berhenti. Alis sebelah udah jadi, sebelahnya lagi belum. Tahu-tahu dari seberang danau ada teriakan lagi:

“PUNYAKU JUGA HILANG!!!”

Itu suara Vivid.

Semua pada nengok.

Vivid berdiri. Masih pake roller di rambut depan.

“Vivid juga?” tanya Mawar.

“IYAAAA!!!”

Mawar langsung duduk. Nangis dia.

Vivid liat Mawar nangis. Dia jadi ikut nangis.

Seluruh danau jadi panik.

Karena di Kahyangan ada peraturan: Tanpa selendang berarti gak bisa pulang.

Bakal stuck di bumi.

Kak Jauhari buru-buru dateng. Dia itu pembina harian bidadari. Mengenakan bodycon dress ungu metalik, full glitter, rambut digelung mewah, kalung besar di leher.

“Ada apa ini?!”

“Selendang aku sama Vivid ilang, Kak!” jawab Mawar sambil terisak.

“HILANG?!”

“IYAAAA…”

Mawar langsung guling-guling di tanah.

Vivid ngerasa gak enak kalau cuma Mawar yang guling-guling. Dia juga ikut guling-guling.

“KITA CARI!!!” perintah Kak Jauhari.

Area danau langsung terasa jadi pasar.

Ada yang bongkar daun. Ada yang nyusup ke Semak-semak. Ada juga yang ngintip di balik handuk temen. Barangkali saja iseng ngumpetin.

Saat matahari makin turun dan langit jingga, selendang itu tetep gak ketemu.

Terdengar Suara dari atas batu besar.

“KUMPUL SEMUA!”

Itu Kak Iput. Ketua Keluarga Besar Bidadari.

Dia tampil paripurna mengenakan kebaya ketat warna merah menyala penuh payet yang bikin susah napas, rok belah tinggi sampai paha, lengkap dengan sepatu hak tinggi stiletto 12 sentimeter yang menancap di tanah lumpur.

Kak Iput adalah legenda hidup bidadari, pernah ikut pertukaran pelajar ke Kahyangan Malaysia selama 1 tahun 30 hari.

Tadi, waktu naik batu, dia sempet kepleset. Tapi “tidak apa-apa” katanya.

Kak Iput batuk, lalu mulai bicara:

“Assalamualaikum, Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan, dan Salam Budaya!”

Para bidadari: …diem.

Bingung jawabnya gimana.

“Adik-adik,” kata Kak Iput kemudian dengan suara sendu. “Tetap tenang,” lanjutnya.

“IYA KAAAK!” jawab mereka kompak.

Kemduian Kak Iput narik napas dalam-dalam, dadanya yang berpayet naik turun dramatis.

“Ini… musibah,” bisiknya kemudian. Lirih.

Terus diam selama 2 detik. Setelah itu baru ngomong lagi.

“Kak Iput ikut berduka cita.”

JLEB.

Tangisan pecah. Pelukan di mana-mana. Ada yang nangis beneran. Ada yang nangis karena liat temennya nangis.

Setelah mulai agak reda, Kak Iput ngomong lagi.

“Ini pernah terjadi. Dulu. Waktu Kak Iput masih junior.”

“Kapan KAAAK?” tanya para bidadari serempak, penasaran setengah mati.

“Dulu, di Jawa Tengah,” jawab kak Iput. “Selendang kami pernah ilang dicuri. Dan pelakunya adalah JAKA TARUB.”

Hening.

Kak Iput melanjutkan. “Dia ngambil pas kami mandi. Akhirnya salah satu di antara kami gak bisa pulang. Terpaksa dia tinggal di bumi.”

“Jaka Tarub itu siapa, Kak?” tanya Vivid penasaran sambil benerin roller di rambut depannya.

Kak Iput menutup muka dengan tangan, nangis dia. “Orang bumi,” katanya parau.

“Orang Perhutani, bukan?” tanya Mawar, masih sesenggukan.

“BUKAN!”

“Lalu gimana, Kak?” tanya yang lain cemas.

Kak Iput menyeka air matanya. Suaranya berubah jadi pelan.

“Lalu… dinikah,” jawab Kak Iput kemudian.

“HAAAAAAAAH?!”

Jeritan seluruh bidadari menggema. Burung pada kabur.

Mawar dan Vivid menjerit paling kenceng.

“AKU GAK MAU NIKAH SAMA MANUSIA BUMI! JELEK-JELEK!” teriak Vivid.

“Sst! Gak boleh SARA!” tegur Kak Iput.

Habis itu, Kak Iput menatap tajam ke arah semak-semak belukar. “Kalau ini kejadian lagi, nasib Mawar dan Vivid bisa sama.”

“Terus gimana, KAAAK?!” teriak mereka panik.

“Kita cari akal.”

“Pakaian aja gak ketemu, apalagi nyari akal, KAAAK!”

“Iya juga.”

Kak Iput mikir keras. Terus matanya nyala.

“Aku tau solusinya, ” kata Kak Iput. “Mawar dan Vivid DIGOTONG.”

“Haaah?”

“Kenapa hah?” tanya Kak Iput.

“BERAT KAAAK!!!”

“Berempat. Digotong berempat.”

Tapi setelah diperdebatkan dengan ricuh, akhirnya mereka sepakat. Mau gak mau. Soalnya emang udah gak ada pilihan lain buat pulang.

Kak Iput narik napas dalam-dalam.

“OKE, kalau begitu!” kata Kak Iput. “Sebelum kita berangkat, aku mau pidato dulu buat si pencuri, barangkali dia masih ada di sekitar sini.”

“Gak usah Kaaak… nanti lama lagi,” teriak bidadari.  

“SEBENTAR AJA!”

Lalu hening.

Kak Iput kemudian berkacak pinggang. Napasnya berat, dadanya yang berhias payet merah naik-turun. Matanya menyipit tajam, menuding lurus ke arah semak-semak tak jauh dari tempat dia berdiri.

“Wahai manusia bumi yang sorok di sebalik semak tuh!” katanya lantang.

Hening sejenak. Angin malam berhembus pelan.

“Kok bahasa Malaysia?” tanya salah satu bidadari, berbisik kepada bidadari di sampingnya. Alisnya naik.

“Lupa kali…” jawab bidadari di sampingnya.

“Ya, udah.”

Kak Iput melirik sekilas ke belakang, lalu batuk. Tapi pas dia mau lanjut bicara, tiba-tiba terdengar suara AZAN MAGHRIB dari kejauhan.

Semua langsung diem. Gak ada yang bersuara. Semua nunduk, menunggu sampai azan selesai. Memang harus begitu.

Setelah azan selesai, Kak Iput narik napas panjang. Dia menegakkan badannya lagi dan menuding lebih keras.

“Hai manusia bumi!” katanya, kenceng. “Aku tau kau ada kat situ! Jangan anggap kami nih bodoh!” bentaknya.

“Kau ambil baju rakan kami! Kau ingat boleh mainkan takdir bidadari?!” lanjutnya, suaranya betul-betul bergetar karena marah.

“Keserakahan kau tuh, hanya akan bawa petaka!” tegas Kak Iput lagi, jarinya masih menuding ke arah semak-semak.

Tapi semak-semak itu diam. Gak ada jawaban. Hanya suara jangkrik.

Kak Iput mendengus. Dadanya yang dibalut payet merah naik turun dengan ganas. Kemudian dia mengangkat lengan kanannya sambil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Urat-urat di lehernya kelihatan banget kayak yang lagi nahan emosi.

Laku, “GANYANG JAKA TARUB!!!” teriak Kak Iput menggelegar, suaranya memecah kesunyian lembah.

“GANYANG JAKA TARUB!!!” sahut para bidadari serentak, menggema ke seluruh langit sambil mengepal dan mengangkat tangannya seperti yang Kak Iput lakukan.

“JAYALAH BIDADARI” seru Kak Iput lagi dengan nada komando, tangan kanannya kembali mengepal, diangkat lagi ke udara.

“JAYALAH BIDADARI!” balas para bidadari itu serentak, tangannya kembali diangkat ke udara, tampak penuh semangat membara.

Oleh itu, beberapa burung kaget terbang. Angin seperti berhenti sebentar kayak ikutan nahan napas.

Setelah dianggap cukup, Kak Iput turun dari batu besar dengan hentakan kaki yang kuat.

“Sekarang kita berangkat!” kata Kak Iput lantang, suaranya tegas, sementara sebelah tangannya harus dibantu ditarik berdiri oleh salah seorang bidadari karena tumit stiletto-nya amblas ke dalam tanah basah.

“BERPAKAIAN DULU KAAAK!” teriak para bidadari serempak.

“OH IYA,” Kata Kak Iput yang sudah mulai berdiri tegak, merapikan kebaya payetnya yang sempat miring.

Setelah selesai berpakaian, mereka akhirnya terbang, kembali ke kahyangan.

Mawar digotong oleh empat orang bidadari sekaligus. Kiri dua, kanan dua. Yang digotong tegang, yang menggotong ngos-ngosan.

Vivid juga diperlakukan sama persis.

Lalu, sunyi.

Di bawah… danau bungkam, hutan seram. Suara binatang beragam, tenggelam dalam diam di malam kelam.

Yang ketinggalan: pengerok ketiak orange, bungkus sampo sachet, sisir plastik, dan trauma.

Sementara itu, di tempat lain, Hardolin sedang duduk di rumah pohonnya.

Di pangkuannya ada selendang bidadari yang berkilau.

“Kita jual ke kota, Hed. Bisa laku mahal ini.”

Kehed, di bawah, hanya mendengus.

Tak lama kemudian…

KRASAK…

KRUSUK…

Ada suara dari semak yang gelap.

Hardolin langsung kaku.

“Siapa?!”

Hening.

Terus dari balik gelapnya hutan, pelan-pelan muncul suara. Awalnya gumaman, lalu makin jelas jadi nyanyian. Nadanya berat, fals, dan anehnya… terdengar sangat serius. Kayak orang yang bener-bener menghayati.

“BAGERO AMERIKA… PEARL HARBOUR BINASA… TENNO HEIKA BANZAI!!!”

Hardolin tersentak. Bahunya naik.

“SIAPA ITU!!!” tanya Hardolin ke arah suara.

Suara itu langsung berhenti.

Hutan sunyi kembali.

BERSAMBUNG… Insya Allah.